Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian Akhir
Singkat cerita akupun pergi
meninggalkan gadis itu, dan mencari tempat kemahku yang telah ku ketahui
arahnya, yaitu arah matahari anak tenggelam yaitu arah barat, gadis itu hanya
berdiri mematung melihat kepergianku, aku bergegas berlari ke arah kemah,
sampai di kemah betapa terkejutnya aku, melihat semua teman-temanku tergeletak
bersimpah darah, bahkan salah satu temanku kakinya putus, aku berlari
menghampiri mereka dan berteriak.
Dan salah satu temanku menjawab,
ternyata mereka diserang binatang buas sejenis anjing, aku bingung bagaimana
bisa 7 orang kalah melawan anjing, namun mereka semua terluka, dan dari 7 orang
temanku semuanya diserang di bagian kaki, sehinggga mereka tidak bisa berjalan
sama sekali, aku panik harus berbuat apa, salah satu temanku bicara.
“tadi subuh kami diserang
binatang itu, mereka banyak sekali, disini terlalu berbahaya, kita harus pergi”
dan temanku yang lain juga setuju dengan hal
itu, namun dengan kondisi mereka, kami tidak bisa pergi disini hanya aku yang
bisa berjalan, aku mengikat dan menyumbat luka-luka di kaki teman-temanku, dan
saat itu juga salah satu temanku memberikan saran.
“karena hanya kamu yang bisa
berjalan, sebaiknya kamu cepat turun ke kota mencari bantuan”
Tanpa pikir panjang aku langsung
setuju, dan berlari menuruni bukit, aku terus berlari, jarak dari kota ke kemah
sekitar 3 jam kalau mendaki, namun kalau menurun akan lebih cepat, apalagi aku
berlari, hampir 1,5 jam perjalanan akhirnya aku sampai di pemukiman terdekat,
dan aku langsung berteriak meminta tolong ke semua orang, setelah sedikit
bercerita, penduduk setempat mengumpulkan para pemuda dan beberapa perlengkapan.
Kami sesegera mungkin berangkat
menuju teman-temanku yang terluka, tapi perjalanan memang sangat jauh, kami
bahkan membutuhkan waktu hampi 3 jam untuk persiapan dan perjalanan, sehingga
pas tengah hari kami baru sampai di kemah, untung saja teman-temanku masih
bertahan, kami langsung memberikan pertolongan pertama, dan juga membuat tandu
darurat untuk membawa teman-temanku kembali ke kota, hampir sore hari kami baru
berhasil sampai di kota, kami langsung membawa teman-temanku ke rumah sakit
terdekat untuk mendapatkan pertolongan, semua keluarga kami kabari dan mereka
langsung datang ke rumah sakit, dan keluargaku juga datang.
Tanpa terasa waktu hampir magrip,
semua sudah tenang, meskipun teman-temanku terluka parah, namun mereka masih
sempat di selamatkan, dan mereka menceritakan kejadian itu kepada para posili
yang datang, mereka bercerita bahwa mereka di serang binatang aneh mirip anjing
ketika sedang istirahat kelelahan karena mencariku yang hilang di hutan. Aku jadi
merasa menyesal dan bersalah, namun saat itu juga aku baru ingat dengan janjiku
untuk memabawa gadis telaga.
Tanpa pikir panjang aku langsung
melepas infus, dan bersiap untuk kembali ke bukit untuk menjemput gadis telaga,
namun adikku bertanya, “Kakak mau kemana..?” dan kujawab bahwa aku akan pergi
ke bukit untuk menjemput salah satu temanku, namun adikku malah berteriak
memanggil ayahku, dan merekapun berkumpul, bahkan para polisi yang masih disitu
juga ikut berkumpul, aku menceritakan semuanya, dan sebab itulah aku akan
kembali ke gunung.
Namun meski dengan ceritaku itu,
tidak ada yang percaya, karena mereka bertanya kepada teman-temanku, hanya ada
kami berdelapan, dan tidak ada orang lain lagi. Walaupun begitu polisi tetap
akan pergi kebukit, karena khawatir kalau masih ada orang dan khawatir kalau
orang tersebut diserang oleh binatang yang menyerang teman-temanku. Aku bersikeras
untuk ikut, namun orang tuaku tidak mengizinkanya, akupun diikat di tempat
tidur pasien, padahal aku tidak mengalami luka sedikitpun, ayah dan kakak
laki-laki ku berjaga disampingku dan tidak mengizinkanku untuk pergi.
Aku gelisah dan bingung harus
bagaimana, aku hanya bisa memberitahu lokasi tempat dimana gadis telaga itu
berada kepada polisi yang akan naik ke bukit, entah mengapa aku terasa
mengantuk sekali, ini adalah malam pertama di bulan ramadhan, ini bulan
perawan.
Keesokan paginya sebagian polisi
telah kembali, dan mereka bilang mereka tidak menemukan apapun, bahkan mereka
tidak menemukan lubang air tempat batu gadis itu berada, yang ada hanya hutan
dan bukit terjal. Meskipun begitu mereka masih tetap mencari, dan karena aku
sudah sehat, aku di ajak naik untuk menujukkan tempat gadis itu, dengan
pengawalan beberapa polisi dan tim pemadam.
Kami telah sampai pada tempat aku
menemukan gadis itu, namun tidak ada apapun disitu, hanya ada pepohonan yang
mirip dengan pohon bakau, lubang air tempat batu itupun tidak ada, semuanya
sudah benar-benar berubah, yang sama hanya pepohonan yang mirip pohon bakau,
bahkan para pemadam dan polisipun bingung, karena pohon seperti itu seharusnya
tinggal di danau atau di pinggir laut, bukan di atas bukit terjal.
Aku tidak putus asa dan terus
mengelilingi tempat itu, bahkan pihak pemadam telah minta bantuan helicopter untuk
mencari tempat itu dari atas, namun tetap tidak ditemukan. Hampi satu minggu
kami terus mencari, namun tidak ditemukan juga. Dan pihak berwenang juga sudah
menghentikan pencarian, ada pula yang bilang bahwa itu adalah ulah setan yang
sengaja menyesatkanku, ada juga yang bilang itu hanya halusinasiku karena
terlalu lelah ketika berlari tersesat di tengah hutan yang gelap, namun aku
tetap percaya bahwa telaga itu ada, lubang dengan batu di tengahnya itu juga
ada, dan gadis telaga itu tentunya nyata.
Sampai saat ini masih sering
orang biasa atau pendaki yang tidak sengaja menemukan telaga itu, mereka bilang
ada sesosok gadis yang selalu menangis, namun mereka tidak bisa melihat atau
menemukanya, sedangkan aku sendiri sudah berulang kali kembali kesana, sengaja
mendaki untuk mencarinya, namun tidak pernah menemukanya. Kono kata kakek dari
temanku, gadis itu hanya bisa dijumpai sebelum bulan perawan bulan ramadhan,
tapi aku belum juga bisa menemukan dimana telaga itu sebenarnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar